Perjalanan Ke Negeri Jiran

PERJALANAN KE TANAH JIRAN

Keberangkatan

Setelah melalui proses pemeriksaan bagasi, cek in, dan pengurusan booarding pass, kami lanjutkan dengan pemeriksaan dokumen keimigrasian, prosedur itu dilalui dengan lancar. Penerbangan pesawat AirAsia  Jakarta-Kuala Lumpur yang kami tumpangi kali ini keberangkatannya lebih awal 15 menit, sehingga kedatangannya pun dapat lebih cepat 15 menit. Pesawat yang Kami tumpangi mendarat di Bandara Kuala Lumpur tepatnya di LCCT (Low Count Careier Terminal) pada pukul 10.15 waktu setempat. Perlu diketahui bahwa bandara Kuala Lumpur itu merupakan bandara internasional yang mempunyai dua terminal kedatangan/keberangatan, yaitu terminal LCCT(Low Count Careier Terminal) yang digunakan untuk penerbangan kelas ekonomi dan terminal KLIA (Kuala Lumpur International Airport) yang digunakan untuk penerbangan kelas menengah ke atas. Meskipun  Terminal LCCT merupakan terminal bagi penerbangan kelas ekonomi tapi keteraturan dan arus orang dan barang tampaknya mendapat pelayanan yang cukup.

Setibanya di bandara Kuala Lumpur setelah melaui proses kepabeanan dengan menggunakan kendaran salah seorang penduduk setempat kami melanjutkan perjalan ke Petaling Jaya. Sebuah kawasan di Luar Kuala lumpur yang juga ramai. Kami akan tinggal sementara di Apartemen Makmur  yang letaknya di salah satu sudut kota Petaling Jaya tepatnya di sekitar Sun Way. Kalau saya lihat kota ini banyak dilengkapi dengan apartemen sebagai hunian penduduk kota. Perjalanan  dari bandara ke Petaling Jaya dapat ditempuh sekitar 1 jam perjalanan dengan kendaraan roda empat dengan fasilitas infra struktur yang memadai. Sepanjang jalan jalur Setia Jaya  – KL Center tidak ditemukan rumah-rumah kumuh sebagaimana yang kita sering lihat di Indonesia. Secara kasat mata bangsa Malaysia tampaknya secara ekonomi lebih baik dari bangsa kita.

Mengunjungi Lokasi Wisata Genting Highlands

Perjalanan ke Genting Highlands diwali dengan berjalan kaki menyelusuri beberapa blok apartemen di sepanjang jalan di salah satu sudut kota Petaling Jaya. Kami sengaja berangkat agak pagi, sehingga suasana jalan yang kami lalui tidak terlapau ramai. Setelah perjalanan kaki sekitar 5-10 menit, sampailah pada statsiun kereta Setia Jaya. Dengan membayar 1,3 RM kita sudah dapat tiket KTM   (Kereta Tanah Melayu) dengan tujuan Petaling Jaya – Kuala Lumpur Central (KLC) dengan jarak tempuh sekitar 3,5 KM. Kereta yang ada Malaysia – termasuk yang ada di kota Petaling Jaya ini, pada unumnya tiba dan berangkat tepat waktu sesuai jadwal. Alat transportasi Kereta di Malaysia ada tiga jenis yaitu kereta KTM, KRL (Kereta tanpa masinis), dan Monorail. Kereta dilengkapi dengan Air Condisioner dan kebingsingan yang rendah, sehingga menambah kenyamanan penumpang. Saya melihat para penumpang dari beberapa etnis. Mayoritas tentu etnis melayu, kemudian etnis china, dan tampaknya juga etnis india. Kali ini penumpang tidak terlalu padat mungkin karena masih pagi.  Setelah sekitar 15 menit sampailah kami ke KL Central (Kuala Lumpur Central) di tengh kota Kuala lumpur. KL Central ada suatu tempat di tengah kota Kuala Lumpur yang merupakan pusat pelayanan angkutan terpadu. Dari KL center ini penduduk kota dan siapaun dapat dengan mudah ke berbagai tempat di seluruh malaysia dengan fasilitas angkutan yang bermacam-macam. Seperti kereta api, monorail, bis, taxi dll. Setelah sampai di statiouin kereta Masjid jameek begitu keluar dari kmpleks ststisiun kita langsung sampai ke Little India. Fasilitas transfortasi di Malaysia  yang nikmati memeang sudah dirancang terpadu. Artinya jika kita mempunyai tujuan ke suatu tempat maka fasilitas transfortasi yang ada akan langsung mengantarkna kita “didepan pintu” tempat tersebut. Jadi pelayanan seperti fasiltas travel di Indonesia.

Liitel India adalah suatu kawasan perdagangan di bilangan Kuala Lumpur yang merupakan fasilitas perdagangan baik yang modrn, maupun tradisional. Sesui dengan namanya bnagi banyak pedagang atau pemilik toko disini adalah berasal dari etnis India. Dan asessris keindiaan disisni pun banyak tersedia.

Dari KL centrai kami menggunakan KRL menuju statsium Masjid Jameek, stasiun dimana terdapat lokasi shoping yang idsebut Littel India.

Masjid-jmaeek menggunkan

 

 

 

 

 

Wisata Kuliner dan Shooping di Kawasan Little India

;;;l

Sun Way Pyramid sebuah pusat perbelanjaan (mall) di tengah kota di petaling Jaya. Gedung sun way Pyramid sesuai namanya maka baik interior maupun eksteriornya didisain ala mesir kuno.

MENUMBUHKEMBANGKAN DAYA DAN DISPOSISI MATEMATIS SISWA SMA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INVESTIGASI

Ditulis oleh Mumun Syaban
Mumun Syaban Drs., M.Si, adalah dosen tetap kopertis wilayah IV dpk pada FKIP Universitas Langlangbuana Bandung. S1 dari Jurusan Pendidikan Matematika IKIP Bandung, S2 dari Jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, saat ini sedang mengikuti program S3 pada Jurusan Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia.

Abstract. This research is carried out to obtain the empirical evidence concerning capability of discovering to raise the mathematical power and disposition of senior high school students (SMA). The population in this research is Senior High School Students, with sampel is SMA students  from high level, medium level and lower level in environment in Education Departement in Bandung. This research just using research of control group design especially post-test. To knowing ability of disposition and power mathematical student used by the instrument test. Analysis data in this research using  one way and  two way ANOVA.

The research result obtained as follows:(1) The mathematical power and disposition of student  study which is use the study model of investigation that better than the student which is use  study conventionally. (2) The mathematical power and disposition of student which is using  model study of investigation grouply better than that student  study use the model study of investigation individually. (3) The mathematical power and disposition of student has the cognitive style field independent (FI) better than student has the cognitive style field dependent (FD). (4) There are interaction between study models with level to school in mathematical power. (5) There are interaction between study model with cognitive style. (6) There are interaction between study models with level to school in mathematical disposition. (7) There are no interaction between study models with cognitive style in mathematical disposition.

Key Words: Mathematical power, mathematical disposition, Cognitive Styles, problem solving, communication, reasoning, connections, and group investigation.

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Dalam menghadapi era globalisasi itu diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang handal yang memiliki pemikiran kritis, sistematis, logis,  kreatif dan kemauan untuk bekerja sama secara efektif. SDM yang memiliki kemampuan-kemampuan seperti itulah yang mampu memanfaatkan informasi, sehingga informasi yang melimpah ruah dan cepat  yang datang dari berbagai sumber dan tempat di dunia, dapat diolah dan dipilih, karena informasi yang diterima secara melimpah ruah tersebut tidak semuanya diperlukan dan dibutuhkan.

Sumber daya manusia yang memiliki pemikiran seperti yang telah disebutkan, lebih mungkin dihasilkan dari lembaga pendidikan sekolah. Salah satu mata pelajaran di sekolah yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah mata pelajaran matematika. Hal ini tercermin pada fungsi mata pelajaran matematika dalam kurikulum mata pelajaran matematika tahun 2006 yaitu, matematika berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui materi pengukuran, geometri, aljabar, peluang,  statistika, kalkulus dan trigonometri. Selain itu  matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan mengkomunikasikan gagasan melalui model matematika, diagram, grafik atau tabel.

Secara lebih spesifik, tujuan pembelajaran matematika tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) terdapat dalam standar kompetensi mata pelajaran matematika SMA dan MA (Departemen Pendidikan Nasional, 2006) yaitu sebagai berikut.

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah
  2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan  matematika
  3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
  4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Dengan memperhatikan tujuan pembelajaran matematika tersebut, maka  pembelajaran matematika difokuskan pada kecakapan sebagai berikut.

  1. Kemampuan menggunakan konsep dan keterampilan matematis untuk memecahkan masalah (problem solving).
  2. Menyampaikan ide/gagasan (communication).
  3. Memberikan alasan induktif maupun deduktif untuk membuat, mempertahankan, dan mengevaluasi argumen (reasoning).
  4. Menggunakan pendekatan, keterampilan, alat, dan konsep untuk mendeskripsikan dan menganalisis data (representation).
  5. Membuat pengaitan antar ide matematik, membuat model, dan mengevaluasi struktur matematika (conection).

Lima elemen ini dikenal dengan ”standar proses daya matematika” atau NCTM menyebutnya dengan istilah mathematical power process standards. Lanjutkan membaca

Model-Model Pembelajaran

Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya  belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Dalam prakteknya, kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Oleh karena itu, dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa, sifat materi bahan ajar, fasilitas-media yang tersedia, dan kondisi guru itu sendiri.
Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan dijadikan alternatif  sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi.

1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluk sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep,  menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siawa heterogen (kemampuan, gender, karakter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan. Lanjutkan membaca

PEDOMAN PEMBELAJARAN TATAP MUKA, PENUGASAN TERSTRUKTUR, KEGIATAN MANDIRI TIDAK TERSTRUKTUR

Oleh: Bangkursobo

KONSEP DASAR DAN IMPLEMENATSI

A. Konsep Dasar Pembelajaran

1. Belajar dan Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran merupakan konsep yang saling berkaitan. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku akibat interaksi dengan lingkungan. Proses perubahan tingkah laku merupakan upaya yang dilakukan secara sadar berdasarkan pengalaman ketika berinteraksi dengan lingkungan. Pola tingkah laku yang terjadi dapat dilihat atau diamati dalam bentuk perbuatan reaksi dan sikap secara mental dan fisik. Tingkah laku yang berubah sebagai hasil proses pembelajaran mengandung pengertian luas, mencakup pengetahuan, pemahaman, sikap, dan sebagainya. Perubahan yang terjadi memiliki karakteristik: (1) perubahan terjadi secara sadar, (2) perubahan dalam belajar bersifat sinambung dan fungsional, (3) tidak bersifat sementara, (4) bersifat positif dan aktif, (5) memiliki arah dan tujuan, dan (6) mencakup seluruh aspek perubahan tingkah laku, yaitu pengetahuan, sikap, dan perbuatan. Keberhasilan belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal.

Faktor internal, yaitu kondisi dalam proses belajar yang berasal dari dalam diri sendiri, sehingga terjadi perubahan tingkah laku. Ada beberapa hal yang termasuk faktor internal, yaitu: kecerdasan, bakat (aptitude), keterampilan (kecakapan), minat, motivasi, kondisi fisik, dan mental. Faktor eksternal, adalah kondisi di luar individu peserta didik yang mempengaruhi belajarnya. Adapun yang termasuk faktor eksternal adalah: lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat (keadaan sosio-ekonomis, sosio kultural, dan keadaan masyarakat). Lanjutkan membaca

Pembelajaran Matematika dengan Problem Posing

Oleh: Abdussakir

Belajar Matematika dengan Pemahaman

Menurut Hudojo (1990:5), dalam proses belajar matematika terjadi juga proses berpikir, sebab seseorang dikatakan berpikir bila orang itu melakukan kegiatan mental. Seseorang yang belajar matematika, mempersiapkan mentalnya dalam proses penerimaan pengetahuan baru yang disertai tindakan-tindakan konkret oleh orang itu melalui penyelesaian masalah matematika.

Sebelum tahun 1935, pembelajaran matematika (atau lebih tepatnya aritmetika) dilakukan dengan menggunakan pendekatan psikologi stimulus-respon (As’ari, 1998:2). Perhatian utama pendekatan stimulus-respon adalah kemampuan siswa menghafal dan menggunakan rumus atau algoritma secara efektif. Guru sudah cukup puas bila siswa sudah mampu mengoperasikan bilangan dan trampil menggunakannya untuk menyelesaikan masalah. Guru tidak memikirkan bahwa apakah siswa betul-betul memahami sesuatu yang dilakukan. As’ari (1998:3) juga mengemukakan bahwa guru tidak terlalu dipusingkan untuk membedakan dua istilah “know” dan “know how to”.

Situasi ini berakhir setelah seorang pakar matematika Brownell (1935) menyoroti pentingnya pemahaman dalam pengajaran aritmetika dan membedakan kedua istilah di atas. Orang mulai menyadari bahwa ada dua pengetahuan yang dapat dipelajari dalam matematika, yaitu pengetahuan konseptual dan pengetahuan prosedural. Kedua pengetahuan itu mempunyai peran yang sama pentingnya dan keduanya perlu diajarkan di sekolah (Hiebert dan Lindquist dalam As’ari, 1998:3). Suydam dan Higgins (dalam As’ari,1998:3), menyatakan  bahwa sejak Brownell mengemukakan pendapatnya tersebut,  pentingnya pemahaman dalam pengajaran aritmetika semakin diakui keberadaannya. Lanjutkan membaca

Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika

Oleh: Ahmad Firdaus

A.  Pengertian dan Hakekat Pemecahan Masalah

Terdapat banyak interpretasi tentang pemecahan masalah dalam matematika. Di antaranya pendapat Polya (1985) yang banyak dirujuk pemerhati matematika. Polya mengartikan pemecahan masalah sebagai suatu usaha mencari jalan keluar dari suatu kesulitan guna mencapai suatu tujuan yang tidak begitu segera dapat dicapai. Sementara Sujono (1988) melukiskan masalah matematika sebagai tantangan bila pemecahannya memerlukan kreativitas, pengertian dan pemikiran yang asli atau imajinasi. Berdasarkan penjelasan Sujono tersebut maka sesuatu yang merupakan  masalah bagi seseorang, mungkin  tidak  merupakan masalah bagi orang lain atau merupakan hal yang rutin saja.

Ruseffendi (1991b) mengemukakan bahwa suatu soal merupakan soal pemecahan masalah bagi seseorang bila ia memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk menyelesaikannya, tetapi pada saat ia memperoleh soal itu ia belum tahu cara menyelesaikannya. Dalam kesempatan lain Ruseffendi (1991a) juga mengemukakan bahwa suatu persoalan itu merupakan masalah bagi seseorang jika: pertama, persoalan itu tidak dikenalnya. Kedua, siswa harus mampu menyelesaikannya, baik kesiapan mentalnya maupun pengetahuan siapnya; terlepas daripada apakah akhirnya ia sampai atau tidak kepada jawabannya. Ketiga, sesuatu itu merupakan pemecahan masalah baginya, bila ia ada niat untuk menyelesaikannya.

Lebih spesifik Sumarmo (1994) mengartikan pemecahan masalah sebagai kegiatan menyelesaikan soal cerita, menyelesaikan soal yang tidak rutin, mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari atau keadaan lain, dan membuktikan atau menciptakan atau menguji konjektur. Berdasarkan pengertian yang dikemukakan Sumarmo tersebut, dalam pemecahan masalah matematika tampak adanya kegiatan pengembangan daya matematika (mathematical power) terhadap siswa. Lanjutkan membaca

Pembelajaran Matematika dengan Tugas Bentuk Superitem

Oleh: Ahmad Firdaus

Biggs dan Collis (dalam Sumarmo 1993, h. 2) melakukan  studi tentang struktur hasil belajar dengan tes yang disusun dalam bentuk superitem. Biggs dan Collis dalam temuannya mengemukakan bahwa pada tiap tahap atau level kognitif  terdapat struktur respon yang sama dan makin meningkat dari yang sederhana sampai yang abstrak. Struktur tersebut dinamakan Taksonomi SOLO (Structure of the Observed Learning Outcome). Menurut Biggs dan Collis berdasarkan kualitas model respon anak, tahap SOLO anak diklasifikasikan pada empat tahap atau level.  Keempat tahap tersebut adalah unistruktural, multistruktural, relasional, dan abstrak.

Studi  tentang  tahap  SOLO,  juga  dilakukan  Sumarmo (1993).  Temuan dalam studi ini menguatkan keyakinan bahwa dalam pembelajaran   matematika, penjelasan konsep kepada siswa hendaknya tidak langsung pada konsep atau proses yang kompleks, tetapi harus dimulai dari konsep dan proses yang sederhana. Berdasarkan keyakinan tersebut, Sumarmo (1993) memberikan alternatif pembelajaran yang dimulai dari yang sederhana meningkat pada yang lebih kompleks. Pembelajaran tersebut menggunakan soal-soal bentuk superitem sebagai tugas.

Pembelajaran menggunakan tugas bentuk superitem adalah pembelajaran yang dimulai dari tugas yang sederhana meningkat pada yang lebih kompleks dengan memperhatikan tahap SOLO siswa. Dalam pembelajaran tersebut digunakan soal-soal bentuk superitem. Alternatif pembelajaran yang direkomendasikan Sumarmo tersebut, dirancang agar dapat membantu siswa dalam memahami hubungan antar konsep. Juga membantu dalam memacu kematangan penalaran siswa. Hal itu dilakukan agar siswa dapat memecahkan masalah matematika.

Sebuah  superitem  terdiri  dari  sebuah  stem yang  diikuti beberapa pertanyaan atau item yang semakin meningkat kekompleksannya. Biasanya setiap superitem terdiri dari empat item pada masing-masing stem. Setiap item menggambarkan dari empat level penalaran berdasarkan Taksonomi SOLO. Semua item dapat dijawab dengan merujuk secara langsung pada informasi dalam stem dan tidak dikerjakan dengan mengandalkan respon yang benar dari item sebelumnya. Pada level 1 diperlukan penggunaan satu bagian informasi  dari  stem. Level 2  diperlukan dua atau lebih bagian informasi dari stem.  Pada level 3 siswa harus mengintegrasikan dua atau lebih bagian dari informasi yang tidak secara  langsung  berhubungan  dengan  stem, dan pada level 4 siswa telah dapat mendefinisikan hipotesis yang diturunkan dari stem. Lanjutkan membaca